Kasus Keluarga Muller

 Keluarga Muller, yang terdiri dari Heri Hermawan Muller, Dodi Rustendi Muller, dan Pipin Sandepi Mullermemperoleh dukungan mereka terutama melalui jalur hukum dan struktur perusahaan. Berikut rincian pihak-pihak yang mendukung mereka:

  1. Kuasa Hukum dan Perusahaan
    • PT Dago Inti Graha (PT DIG) bertindak selaku penggugat IV dalam gugatan terhadap warga Dago Elos. Keluarga Muller menyerahkan sebagian hak Eigendom Verponding mereka kepada perusahaan ini.
    • PT Dago Inti Graha dikendalikan oleh direktur dan komisaris yang memiliki pengalaman bisnis lokal, misalnya Jo Budi Hartanto dan Erwin Senjaya Hartanto. Perusahaan ini menjadi kendaraan hukum untuk menggugat warga dan menguatkan klaim Muller bersaudara atas lahan.
    • Kuasa hukum individu (pengacara) yang ditunjuk oleh PT Dago Inti Graha juga siap mengajukan banding dan Peninjauan Kembali (PK) ke Mahkamah Agung.
  2. Instrumen Hukum dan Putusan Peradilan
    • Surat Pernyataan Ahli Waris (PAW) yang dikeluarkan Pengadilan Agama Cimahi memberikan legitimasi kepemilikan tanah bagi Muller bersaudara.
    • Dokumen Eigendom Verponding dari era kolonial Belanda menjadi dasar klaim hak waris mereka.
    • Mahkamah Agung Republik Indonesiamelalui Putusan PK Nomor 109/PK/Pdt/2022memberikan kemenangan hukum pada Muller bersaudara, menguatkan hak mereka untuk mengambil alih tanah dan mewajibkan pengosongan warga secara hukum.
  3. Jaringan Internal Keluarga
    • Dukungan keluarga internal berjalan melalui penurunan hak waris yang sah secara dokumen dari EPPA (Eigendoms Papers) keluarga. Keturunan langsung dan cucu George Hendrik Muller menjadi inti dari klaim hukum.
  4. Batas Dukungan Eksternal
    • Tidak ada bukti dukungan dari pihak pemerintah daerah, lembaga HAM, atau swasta selain jalur hukum dan PT Dago Inti Graha.
    • Dukungan publik dan warga lokal justru menentang klaim Muller, yang mengakibatkan protes, perlawanan hukum, dan bentrokan fisik di Dago Elos.

Kesimpulan

Dukungan utama keluarga Muller berasal dari:
  • Jalur hukum melalui PT Dago Inti Graha dan kuasa hukum mereka.
  • Penguatan klaim melalui Putusan Peninjauan Kembali Mahkamah Agung yang memenangkan klaim mereka atas lahan Dago Elos.
  • Struktur internal keluarga yang menjaga kesinambungan klaim waris dan dokumen sah kepemilikan.
Tidak ada bukti dukungan signifikan dari pihak eksternal lain selain jalur hukum dan perusahaan milik keluarga Muller, sementara warga dan komunitas lokal signifikan menentang klaim mereka.
Berdasarkan informasi dari laporan dan ringkasan kasus sengketa tanah Dago Elos, berikut adalah peran yang terkait dengan Iwan Surjadi:
  1. Fokus Kasus Iwan Surjadi:
    • Sekitar tahun 2012pengacara yang mewakili Iwan Surjadi melaporkan warga Kampung Cirapuhan ke polisi.
    • Laporan tersebut diduga merupakan bagian dari upaya tekanan terhadap warga menggunakan instrumen negara, bukan semata-mata karena perselisihan hukum yang sah.
  2. Dugaan Kolusi dalam Sengketa:
    • Iwan Surjadi dan kuasa hukumnya diketahui atau diduga mengetahui masalah kepemilikan lahan terkait Didi Koswara dan Ismail Tanjung.
    • Walaupun lahan ini bermasalah dan haknya meragukan, peran Iwan Surjadi diduga mendukung rekayasa dokumen dan penguatan bukti kepemilikan melalui AJB (Akta Jual Beli) dan keterangan lurahyang menurut laporan warga tidak sesuai fakta lapangan.
  3. Hubungan dengan Modus Predikat "Mafia Tanah":
    • Kasus Iwan Surjadi terkait modus yang sama seperti sengketa Dago Elos secara keseluruhan, yaitu sengketa rekayasa dan kemungkinan kolusi antara oknum warga, aparat, dan pihak swasta.
    • Tujuannya diduga untuk memanipulasi kepemilikan lahan agar dimiliki secara sah oleh pihak tertentu, meskipun bukti dan fakta sejarah lahan tersebut menunjukkan bahwa hak warga sebelumnya belum digantikan secara sah.
  4. Implikasi terhadap Warga Kampung Cirapuhan:
    • Aksi yang dikaitkan dengan Iwan Surjadi berpotensi menimbulkan tekanan hukum dan sosial bagi warga yang mempertahankan kepemilikan lahan mereka.
    • Dugaan penekanan oleh aparat negara atas laporan yang diajukan pengacara Iwan Surjadi menjadikan kasus ini lebih kompleks dan berlapissejalan dengan pola sengketa Dago Elos yang melibatkan banyak pihak dan dugaan praktik mafia tanah.

Kesimpulan

Peran Iwan Surjadi dalam sengketa kasus Dago Elos di Kampung Cirapuhan bersifat pengacara dan pelapor yang diduga mengetahui adanya masalah hak atas lahan yang diperebutkan dan turut memperkuat klaim melalui dukungan formal dan prosedural. Aksi yang dilakukan oleh pihaknya disebut sebagai salah satu bagian dari tekanan terhadap warga dan potensi kolusi dalam sengketa lahanbukan dalam kapasitas sebagai warga yang memiliki hak sah di lahan tersebut.
Informasi ini konsisten dengan laporan warga, analisis putusan Pengadilan Negeri Bandung, serta riset terkait modus operandi sengketa tanah Dago Elos.

Berdasarkan berbagai sumber yang tersedia, aktor utama yang diduga merekayasa saling gugat dalam konflik Dago Elos menurut warga Kampung Cirapuhan adalah anggota keluarga Muller, khususnya Heri Hermawan Muller, Dodi Rustendi Muller, dan Pipin Sandepi Mulleryang mengklaim lahan tersebut sebagai hak waris mereka melalui dokumen Eigendom Verponding dari masa kolonial Belanda. Selain itu, dugaan kolusi dan pemalsuan dokumen juga melibatkan PT Dago Inti Graha sebagai penggugat formal, serta dukungan pihak kuasa hukum dari firma hukum tertentu, dan oknum terkait seperti aparat setempat, oknum warga, oknum Tomas, Toga, serta individu lain yang disebut warga sebagai bagian dari jaringan yang memfasilitasi rekayasa gugatan.
Jadi, menurut perspektif warga Kampung Cirapuhan dan catatan analisa lokal, aktor utama dalam modus “mafia tanah” dan rekayasa saling gugat adalah Heri Hermawan Muller, Dodi Rustendi Muller, Pipin Sandepi Muller, dan beberapa pihak korporasi serta oknum jaringan yang bersekutu dengan mereka untuk mengklaim lahan secara terstruktur.

Menurut warga Kampung Cirapuhan, tergugat utama dalam kasus konflik Dago Elos adalah kelompok tergugat pembela insidentil yang terdiri dari kombinasi warga yang berjuang mempertahankan tanah dan pihak yang diduga berkolusi atau simpatisan jaringan mafia tanah. Kelompok ini memiliki peran sentral dalam sengketa karena sejumlah alasan berikut:
  1. Identitas dan Peran:
    • Tergugat utama mengemukakan lokasi sengketa di Dago Elos dan RW 02.
    • Mengajukan permohonan ke hakim agar BPN memproses hak pertanahan RW 02 sebelum gugatan resmi didaftarkan.
    • Menggunakan berbagai alas hak (Eigendom Verponding) dengan versi berbeda-beda, termasuk versi H. Syamsul Mapareppa, Raminten, Frederic Willem Berg, dan Joost Willem Sloot.
    • Gugatan terdaftar pada 30 November 2016 dan bukti-bukti yang diajukan dinilai warga tidak jelas baik dari segi riwayat, luas, maupun legalitasnya.
  2. Akses dan Koneksi:
    • Kelompok ini disebut memiliki akses luas ke berbagai lembaga, individu, dan jaringan hukum.
    • Dukungan tampak bercampur antara pihak yang positif (misalnya ulama) dan pihak yang meragukan (misalnya preman, ormas, pejabat berpangkat tinggi).
  3. Strategi Pembelaan:
    • Pada sidang awal, pembelaan hanya diwakili oleh pembela insidentil tergugat IImeski memiliki jaringan hukum yang cukup luas.
    • Dalam proses hukum, peran kelompok ini mencerminkan kompleksitas karena campuran moral dan sosialpihak yang benar dan yang salah tampak bercampur dalam satu barisan.
    • Diduga ada modus rekayasa saling gugatsehingga klaim ala hak tergugat utama berperan untuk mengaburkan kolusi dengan penggugat agar tampak seolah saling berhadapan.
  4. Dinamika Lanjutan:
    • Kelompok ini mencakup pihak-pihak yang terus menyesuaikan posisi mereka sepanjang proses, termasuk membentuk entitas baru seperti “Kelompok 12”.
    • Proses gugatan dan pembelaan dianggap warga sebagai sandiwara hukum karena penggunaan dokumentasi yang diragukan dan alih objek hak yang manipulatif.
Kesimpulannya, menurut perspektif warga Kampung Cirapuhan, tergugat utama bukan sekadar pihak yang membela diri secara individual, tetapi pusat dari strategi hukum yang kompleks, berkolusi dengan penggugat, dan memiliki jaringan luas untuk mengontrol jalannya sengketa Dago ElosKelompok ini memainkan peran kunci dalam dinamika konflik, pengajuan gugatan, dan manipulasi administrasi pertanahan yang menimbulkan ketidakpastian bagi warga setempat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kasus mafia tanah di Dago Elos

strategi melawan mafia tanah

sidang muller dago elos