Peran tergugat utama dalam kasus Dago Elos

Peran tergugat utama dalam kasus Dago Elos

 Menurut warga Kampung Cirapuhan, tergugat utama dalam kasus konflik Dago Elos adalah kelompok tergugat pembela insidentil yang terdiri dari kombinasi warga yang berjuang mempertahankan tanah dan pihak yang diduga berkolusi atau simpatisan jaringan mafia tanah. Kelompok ini memiliki peran sentral dalam sengketa karena sejumlah alasan berikut:

  1. Identitas dan Peran:
    • Tergugat utama mengemukakan lokasi sengketa di Dago Elos dan RW 02.
    • Mengajukan permohonan ke hakim agar BPN memproses hak pertanahan RW 02 sebelum gugatan resmi didaftarkan.
    • Menggunakan berbagai alas hak (Eigendom Verponding) dengan versi berbeda-beda, termasuk versi H. Syamsul Mapareppa, Raminten, Frederic Willem Berg, dan Joost Willem Sloot.
    • Gugatan terdaftar pada 30 November 2016 dan bukti-bukti yang diajukan dinilai warga tidak jelas baik dari segi riwayat, luas, maupun legalitasnya.
  2. Akses dan Koneksi:
    • Kelompok ini disebut memiliki akses luas ke berbagai lembaga, individu, dan jaringan hukum.
    • Dukungan tampak bercampur antara pihak yang positif (misalnya ulama) dan pihak yang meragukan (misalnya preman, ormas, pejabat berpangkat tinggi).
  3. Strategi Pembelaan:
    • Pada sidang awal, pembelaan hanya diwakili oleh pembela insidentil tergugat IImeski memiliki jaringan hukum yang cukup luas.
    • Dalam proses hukum, peran kelompok ini mencerminkan kompleksitas karena campuran moral dan sosialpihak yang benar dan yang salah tampak bercampur dalam satu barisan.
    • Diduga ada modus rekayasa saling gugatsehingga klaim ala hak tergugat utama berperan untuk mengaburkan kolusi dengan penggugat agar tampak seolah saling berhadapan.
  4. Dinamika Lanjutan:
    • Kelompok ini mencakup pihak-pihak yang terus menyesuaikan posisi mereka sepanjang proses, termasuk membentuk entitas baru seperti “Kelompok 12”.
    • Proses gugatan dan pembelaan dianggap warga sebagai sandiwara hukum karena penggunaan dokumentasi yang diragukan dan alih objek hak yang manipulatif.
Kesimpulannya, menurut perspektif warga Kampung Cirapuhan, tergugat utama bukan sekadar pihak yang membela diri secara individual, tetapi pusat dari strategi hukum yang kompleks, berkolusi dengan penggugat, dan memiliki jaringan luas untuk mengontrol jalannya sengketa Dago ElosKelompok ini memainkan peran kunci dalam dinamika konflik, pengajuan gugatan, dan manipulasi administrasi pertanahan yang menimbulkan ketidakpastian bagi warga setempat.

Dalam kasus konflik Dago Elos, para pihak tergugat utama diduga secara kolusif atau sengaja berperan dalam membantu penggugat untuk mendata dan mengelola klaim lahan, meskipun secara formal mereka tampil sebagai pihak yang membela diri. Berdasarkan analisis putusan Pengadilan Negeri Bandung (Nomor 454/PDT.G/2016/PN.BDG) dan laporan warga kampung Cirapuhan:
  1. Kelompok Utama Tergugat (Tergugat Pembela Isidentil)
    • Kelompok ini merupakan gabungan antara warga yang mempertahankan hak mereka secara sah dan pihak-pihak yang dicurigai berkolusi atau menjadi simpatisan jaringan mafia tanah.
    • Mereka menyampaikan permohonan kepada hakim agar BPN memproses hak pertanahan RW 02 sebelum gugatan resmi teregistrasi.
    • Kelompok ini memiliki berbagai alas hak dan dokumen yang dijadikan bukti, tetapi banyak yang tidak jelas atau kontradiktif.
    • Mereka memiliki akses ke lembaga, individu, dan koneksi hukum yang luas, sehingga secara implisit membantu penggugat dengan memberikan kesan formalitas dan legalitas pada klaim.
    • Secara tak langsung, posisi kelompok ini menciptakan narasi bahwa penggugat dan tergugat berada dalam jaringan yang sama, memperkuat klaim penggugat di persidangan.
  2. Tergugat Nomor 88 (An Mina)
    • Awalnya menunjukkan lokasi sengketa di wilayah Dago (tanpa Elos), namun kemudian mendukung para pihak yang menggunakan alas hak Barat (Eigendom Verponding).
    • Kelompok ini perlahan menyadari adanya kejanggalan, tetapi kontribusinya sebelumnya turut memfasilitasi dokumentasi dan legitimasi klaim penggugat melalui penyelarasan penggunaan alas hak.
  3. Tergugat 334 (Dinas Perhubungan)
    • Menunjukkan posisi yang cerdas dan jeli, menyoroti ketidaksesuaian alas hak penggugat dan juga para pihak tergugat utama dengan laporan BPN.
    • tergugat ini lebih mengemukakan bahwa lokasi sengketa di Dago. menunjukkan lokasi sengketa di wilayah Dago (tanpa Elos) Hal tersebut sesuai di berkas dan atau riwayat yang lebih bisa di percaya . Dan perlu dipertanyakan dan butuh pemeriksaan  bila lembaga dan atau pihak mengungkapkan wilayah sengketa di Dago Elos dan atau di Rw 02 . Terkait gugatan muller atas objek Eigendome verponding 3740 , 3741 dan 3742 . Karena hanya 1,9 ha berada di Dago Elos dan atau di rw 02 yaitu ev 3740 dan Ev 3741 . Adapun EV 3742 dengan luas sekitar 4,4 hektar identtik dengan yang ada di kampung cirapuhan rw 01 ( dalam bahasa menurut warga Bahwa warga masyarakat adat mengenal kontur tanah tanah zaman dulu yang mana ini adalah tanah yang diduduki dan kuasai leluhur mereka yang kemudian di klaim oleh kolonial . 
    • Dalam proses persidangan, keterlibatan mereka secara tidak langsung membantu menguatkan dan merapikan dokumen yang digunakan penggugat untuk memproses klaim lahan secara administratif.
  4. Tergugat 335 (PT Pos Indonesia)
    • Peran lebih pasif, hanya mengutip penggunaan wilayah “Dago Elos” dalam aktivitas surat menyurat, Namun tergugat ini lebih cenderung mengemukakan bahwa lokasi sengketa di Dago di banding Dago Elos
Kesimpulan:
Para tergugat utama tidak hanya membela diri dalam persidangan, tetapi dugaan kolusi muncul dari fakta bahwa mereka:
  • Mengajukan dokumen dan permohonan yang tampak resmi ke pengadilan dan BPN, walaupun banyak di antaranya ambigu atau kontradiktif.
  • Membantu penggugat dalam merapikan klaim, menyusun data alas hak, serta menciptakan seolah-olah terdapat legitimasi hukum.
  • Menunjukkan pola pembagian peran yang mendukung narasi penggugat, baik melalui dokumen, lokasi, maupun prosedur administratif.
Dengan demikian, peran tergugat utama dalam kasus Dago Elos lebih kompleks daripada sekadar pembelaan formal; mereka diduga membantu penggugat dalam pendataan dan pengelolaan klaim lahan, yang kemudian berpotensi menimbulkan kerugian bagi warga yang sah menempati lahan tersebut.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kasus mafia tanah di Dago Elos

strategi melawan mafia tanah

sidang muller dago elos